RemembeR

" hidup sekali, hiduplah yang berarti"

Mengenai Saya

Foto saya
Allow cendekiawan baru, ktemu dengan aq dlm blog ini. q asli reog city.blog ini berisi secara keseluruhan tentang pengetahuan. harapanq bermanfaat wuat QM-QM

Selasa, 31 Agustus 2010

Menjadi Cantik Ternyata Enggak Gampang

Belakangan ini sering terdengar pemberitaan mengenai Puteri Indonesia Qory Sandioriva terkait keikutsertaannya dalam Miss Universe 2010. Perempuan berusia 19 tahun ini mendapat cacian karena ketidakmampuannya dalam berbahasa Inggris setelah mendengar jawabannya dalam pre-pageant interview yang diunggah ke YouTube.

Qory diprotes karena seharusnya mempersiapkan diri lebih baik sebelum berangkat ke Las Vegas. Bila memang tidak mampu berbahasa Inggris dengan baik, maka mengapa ia tidak menunjuk seorang penerjemah? Komentar yang lain diarahkan ke panitia Pemilihan Puteri Indonesia yang menyatakan bahwa Indonesia tidak mampu memilih calon yang berkualitas untuk dikirim ke ajang Miss Universe.

Bila yang dipermasalahkan adalah kemampuan berbahasa Inggris, sebenarnya tidak juga, karena bahasa Inggris tampaknya bukan persyaratan utama agar seorang kandidat terpilih jadi Miss Universe. Miss Mexico, Jimena Navarrete (22), yang akhirnya dinobatkan sebagai Miss Universe 2010, juga tidak lancar berbahasa Inggris. Namun dengan bantuan penerjemah, Jimena dianggap mampu memberikan jawaban yang tangkas dan memuaskan.

Hal ini mengingatkan kita pada Nadine Chandrawinata yang juga sempat menjadi bahan olokan karena mengatakan, "Indonesia is a big city." Padahal sih, kalau mau jujur, sebenarnya kesalahan itu bisa saja terjadi karena rasa tegang menghadapi kompetisi. Kita semua pasti pernah mengalaminya.

Begitu pula dengan Qory. Mungkin karena gugup dan terlalu memikirkan bagaimana berbicara bahasa Inggris, akhirnya ia tidak dapat memberikan jawaban yang memuaskan. Sebaliknya, Jimena lebih terfokus dalam menuangkan isi pikirannya. Sebagai hasilnya, tidak ada orang yang meremehkan kecerdasan perempuan asal Guadalajara ini.

Stereotip perempuan cantik
Dari kejadian tersebut, kita bisa menangkap pesan bahwa menjadi perempuan cantik itu enggak gampang. Hanya karena cantik, hidup seorang perempuan tidak lantas menjadi mudah. Bahkan mungkin, bebannya menjadi lebih berat daripada perempuan lain pada umumnya. Hal ini termasuk ketika Qory, Nadine, atau Artika Sari Dewi, berhasil memenangi Puteri Indonesia. Sehebat apa sih, mereka?

Dalam sebuah penelitian yang dipublikasikan di Journal of Social Psychology, terlihat bahwa orang-orang yang cantik dan tampan mendapat berbagai privilese. Misalnya, mereka mendapat gaji yang lebih tinggi, evaluasi kinerja yang lebih baik, hingga penilaian yang lebih menyenangkan dalam masa percobaan. Namun, ketika seorang perempuan cantik tidak mampu membuktikan kinerja yang baik, setidaknya ada deretan anak buah atau rekan kerja yang akan berbalik meremehkannya.

Ketika dianugerahi wajah cantik, seseorang dituntut untuk "lebih" dalam hal lainnya. Selain cantik, ia juga harus baik, ramah, lucu, dan pintar. Kalau tidak pintar, akan muncul komentar, "Cantik-cantik kok bodo?"

Kurangnya kesadaran untuk selalu menambah wawasan inilah yang lalu menimbulkan stereotip bahwa perempuan cantik itu umumnya tidak cerdas. Padahal, Anda tahu, tidak semua perempuan cantik itu bodoh. Masalahnya, sering kali mereka hanya lebih peduli untuk merawat kecantikan saja. Tak heran bila Mignon McLaughlin, wartawan dan penulis di sejumlah majalah wanita seperti Redbook, Cosmopolitan, Vogue, dan Glamour pernah mengatakan, "Banyak perempuan cantik yang bahagia dengan kecantikannya, tapi tidak ada perempuan cerdas yang bahagia dengan kecerdasannya." Perempuan cantik akan puas dengan kecantikannya saja, tapi perempuan pintar tidak akan pernah puas dengan kepintarannya.

Susahnya, di saat lain, ketika ada perempuan cantik yang berani menyuarakan pendapat, mereka tetap mengundang cacian. Ingat ketika Gisele Bundchen mengatakan perlunya hukum yang mengharuskan perempuan untuk memberikan ASI untuk bayinya selama enam bulan pertama? Model asal Brasil ini lantas dituduh menyerang perempuan lain yang tidak memberikan ASI untuk anaknya.

Dalam hal relasi dengan pasangan, perempuan cantik juga tidak lantas mampu membina hubungan yang harmonis (hanya karena kecantikannya). Ketika seorang perempuan cantik ditinggal oleh suaminya yang berselingkuh, ia tetap menjadi pihak yang bersalah karena tidak mampu "menjaga" sang suami.

Padahal, tanpa menjadi cantik pun perempuan sudah mendapatkan tuntutan sosial untuk menjadi sempurna. Ketika tubuh makin melebar seusai melahirkan, perempuan dituntut untuk cepat menjadi langsing lagi (kadang-kadang tuntutan ini bahkan datang dari orang terdekatnya, suami). Ketika prestasi anak di sekolah menurun, atau ia menjadi bandel, perempuan juga kerap disalahkan karena dianggap tidak becus mengasuh anak.

Anda mungkin akan mengatakan, hal ini sungguh tidak adil! Namun, tidak ada yang bisa Anda lakukan ketika mengalami hal seperti itu, kecuali membuktikan bahwa Anda tidak seperti yang dikira orang.

Mari kita ambil saja hikmah dari kasus Qory dan perempuan cantik manapun di dunia ini (yang mendapatkan stereotip tertentu) bahwa pada dasarnya kita harus menjadi lebih baik daripada sebelumnya. Cantik atau tidak, kita perlu membekali diri dengan pengetahuan dan keterampilan, termasuk dalam membina hubungan yang harmonis dengan pasangan. Lakukan hal ini untuk diri Anda sendiri, bukan untuk orang lain. Dengan demikian, kepuasan yang Anda dapat akan melebihi rasa senang saat mendapat pujian dari orang lain.

Untuk Qory, bagaimanapun juga, dengan terpilih menjadi Puteri Indonesia, ia telah menjadi yang terbaik. Qory tak perlu kecewa dan terpuruk dengan berbagai pemberitaan yang menyudutkan. Ia masih muda dan akan mengambil banyak pelajaran dari ajang Miss Universe ini. Keep your head up, Qory, and so do we.

Tidak ada komentar:

Pengikut